PEMBELAJARAN IPS MELALUI INTERNET

Posted in Uncategorized on Mei 7, 2009 by djokohadisurjono

Selama ini di tingkat persekolahan memperlihatkan, dalam proses pembelajaran IPS, guru IPS kurang optimal baik di dalam memanfaatkan maupun memberdayakan sumber pembelajaran, karena dalam proses pembelajaran IPS cenderung masih berpusat pada guru (teacher centered), textbook centered, dan monomedia. Adalah tidak dapat dipersalahkan apabila banyak siswa mengganggap proses pembelajaran IPS sebagai sesuatu yang membosankan, monoton, kurang menyenangkan, terlalu banyak hafalan, kurang variatif, dan pelbagai keluhan lainnya.
Padahal pendidikan IPS merupakan synthetic science, karena konsep, generalisasi, dan temuan-temuan penelitian ditentukan atau diobservasi setelah fakta terjadi. Informasi faktual tentang kehidupan sosial atau masalah-masalah kontemporer yang terjadi di masyarakat dapat ditemukan dalam liputan (exposure) media massa, karena media massa diyakini dapat menggambarkan realitas sosial dalam berbagai aspek kehidupan. Meskipun untuk itu, informasi atau pesan (message) yang ditampilkannya sebagaimana dapat dibaca di surat kabar atau majalah, didengarkan di radio, dilihat di televisi atau internet telah melalui suatu saringan (filter) dan seleksi dari pengelola media itu untuk berbagai kepentingannya, misalnya : untuk kepentingan bisnis atau ekonomi, kekuasaan atau politik, pembentukan opini publik, hiburan (entertainment) hingga pendidikan.
Terlepas dari berbagai kepentingan yang melatarbelakangi pemunculan suatu informasi atau pesan yang disajikan oleh media massa, kiranya tidak dapat dipungkiri lagi bahwa pada masa kini pertemuan orang dengan media massa sudah tidak dapat dielakkan lagi. Tidaklah berlebihan kiranya apabila abad ke-21 disebut sebagai abad komunikasi massa, bahkan dalam pembabakan sejarah umat manusia, McLuhan (1964) menyatakannya sebagai babak neo-tribal (sesudah babak tribal dan babak Gutenberg), yakni masa di mana alat elektronis memungkinkan manusia menggunakan beberapa macam alat indera dalam komunikasi.Adapun Alvin Toffler (1981) menamakannya sebagai The Third Wave.

Sementara itu, seiring dengan pesatnya perkembangan media informasi dan komunikasi, baik perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software), akan membawa perubahan bergesernya peranan guru termasuk guru IPS sebagai penyampai pesan/informasi. Ia tidak bisa lagi berperan sebagai satu-satunya sumber informasi bagi kegiatan pembelajaran para siswanya. Siswa dapat memperoleh informasi dari berbagai sumber terutama dari media massa, apakah dari siaran televisi dan radio (media elektronik), surat kabar dan majalah (media cetak), komputer pribadi, atau bahkan dari internet.
Tidak berlebihan kiranya apabila disebutkan bahwa media massa sangat berpengaruh di dalam pendidikan IPS. Hal ini didasarkan pada berbagai temuan penelitian yang menyiratkan, antara lain, bahwa :
1. Media massa, khususnya televisi, telah begitu memasyarakat;
2. Media massa berpengaruh terhadap proses sosialisasi;
3. Orang-orang lebih mengandalkan informasi yang berasal dari media massa
daripada dari orang lain
4. Para guru IPS perlu memberdayakan media massa sebagai sumber
pembelajarannya; dan
5. Para orang tua dan pendidik, baik secara sendiri-sendiri maupun secara
bersama-sama, dapat meminimalisasikan pengaruh negatif media massa dan
mengoptimalkan dampak positifnya. (Adiwikarta, 1988; Nielsen Media, 1989; Dominguez and Rincon, 1992; Prisloo and Criticos, 1994) Lain daripada itu, massa dapat menunjang keberhasilan proses pembelajaran IPS melalui tiga cara :
1. Media massa dapat memperbaiki bagian content dari kurikulum IPS;
2. Media massa dapat dijadikan alat pembelajaran yang penting bagi IPS; dan
3. Media massa dapat digunakan untuk menolong siswa mempelajari metodologi ilmu-ilmu sosial, khususnya di dalam menentukan dan menginterpretasi fakta-fakta sosial (Clark, 1965 : 46-54).
Tulisan ini mencoba memberikan salah satu solusi alternatif untuk mengatasi problematika sebagaimana dipaparkan di awal tulisan, yakni dengan memanfaatkan salah satu media massa kontemporer internet sebagai sumber pembelajaran IPS.Internet, singkatan dari internatonal network¨, adalah jaringan informasi global, yakni is the largest global network of computers, that enables people throughout the world to connect with each other¡¨. Internet dicetuskan pertama kali ide pembuatannya oleh J.C.R. Licklider dari MIT (Massachusetts Institute Technology) pada bulan Agustus 1962.
Di Indonesia, internet mulai meluas sekitar tahun 1995, sejak berdirinya indointernet (Purbo, 2000).Untuk dapat menggunakan internet diperlukan sebuah komputer (memory minimal 4 mega), harddisk yang cukup, modem (berkecepatan minimal 14.400), sambungan telepon (multifungsi : telepon, faksimile, dan internet), ada program Windows, dan sedikit banyak tahu cara mengoperasikannya.
Selanjutnya hubungi provider terdekat. Andaikan semua prasyarat tadi tidak dimiliki, cukup mendatangi warnet (warung internet) terdekat yang banyak terdapat di kota-kota besar maka kita dapat mengakses situs-situs apa saja sesuai dengan kebutuhan kita.Internet disebut juga media massa kontemporer, karena memenuhi syarat-syarat sebagai sebuah media massa, seperti antara lain : ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen, dan anonim serta melewati media cetak atau elektronik, sehingga pesan informasi yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat oleh khalayaknya.
Pemanfaatan internet sebagai sumber pembelajaran IPS mengkondisikan siswa untuk belajar secara mandiri. Through independent study, students become doers, as well as thinkers¨ (Cobine, 1997). Para siswa dapat mengakses secara online dari berbagai perpustakaan, museum, database, dan mendapatkan sumber primer tentang berbagai peristiwa sejarah, biografi, rekaman, laporan, data statistik, atau kutipan yang berkaitan dengan IPS (Gordin et. al., 1995). Informasi yang diberikan server-computers itu dapat berasal dari ¡§commercial businesses (.com), goverment services (.gov), nonprofit organizations (.org), educational institutions (.edu), atau artistic and cultural groups (.arts)
Siswa dapat berperan sebagai seorang peneliti, menjadi seorang analis, tidak hanya konsumen informasi saja. Mereka menganalisis informasi yang relevan dengan pembelajaran IPS dan melakukan pencarian yang sesuai dengan kehidupan nyatanya (real life).Siswa dan guru tidak perlu hadir secara fisik di kelas (classroom meeting), karena siswa dapat mempelajari bahan ajar dan mengerjakan tugas-tugas pembelajaran serta ujian dengan cara mengakses jaringan komputer yang telah ditetapkan secara online.Siswa juga dapat belajar bekerjasama (collaborative) satu sama lain. Mereka dapat saling berkirim e-mail (electronic mail) untuk mendiskusikan bahan ajar IPS.
Kemudian, selain mengerjakan tugas-tugas pembelajaran dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan guru IPS, siswa dapat berkomunikasi dengan teman sekelasnya (classmates)Pemanfaatan internet sebagai sistem e-learning memiliki beberapa kelebihan sebagai berikut :
1. Dimungkinkan terjadinya distribusi pendidikan ke semua penjuru tanah air dan
kapasitas daya tampung yang tidak terbatas karena tidak memerlukan ruang
kelas;
2. Proses pembelajaran tidak terbatas oleh waktu seperti halnya tatap muka
biasa;
3. Pembelajaran dapat memilih topik atau bahan ajar yang sesuai dengan
keinginan dan kebutuhan masing-masing;
4. Lama waktu belajar juga tergantung pada kemampuan masing-masing
pembelajar/siswa;
5. Adanya keakuratan dan kekinian materi pembelajaran;
6. Pembelajaran dapat dilakukan secara interaktif, sehingga menarik
Pembelajar /siswa; dan
7. Memungkinkan pihak berkepentingan (orang tua siswa maupun guru) dapat
turut serta menyukseskan proses pembelajaran, dengan cara mengecek
tugas-tugas yang dikerjakan siswa secara on-line.
Selain beberapa kelebihan di atas, ada kelemahan yang mungkin timbul dalam sistem e-learning ini, yaitu tingginya kemungkinan gangguan belajar; sebab sistem tersebut mengkondisikan siswa untuk belajar mandiri, sehingga faktor motivasi belajar menjadi lebih signifikan terhadap keberhasilan belajar siswa. Untuk itu diperlukan adanya semacam penasehat (counsellor) yang memantau dan memotivasi belajar siswa agar prestasi belajarnya tidak menurun, dengan cara mengerjakan tugas-tugas belajar sebaik-baiknya dan secara tepat waktu.
Di samping itu juga agar siswa tidak mengakses hal-hal yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan pelajaran atau hal-hal yang bersifat negatif (misalnya membuka situs-situs porno, atau membobol rekening bank dan rahasia perusahaan).
Meskipun begitu, pemanfaatan internet (sistem e-learning) sebagai sumber pembelajaran IPS merupakan sebuah keniscayaan, karena beberapa alasan berikut :
1. Mengingat penduduk Indonesia yang sangat besar dan tersebar di berbagai
wilayah, serta terbatasnya daya tampung sekolah dan lembaga pendidikan
lainnya, sehingga tidak mungkin dapat menampung mereka yang ingin belajar,
maka prospek pemanfaatan internet sebagai suatu pendidikan alternatif cukup
cerah;
2. Mendukung pencapaian pembelajaran IPS yang multicultural;
3. Mendorong kemampuan bagaimana belajar untuk belajar (learning to learn);
4. Membawa dampak ikutan yang positif, umpamanya meningkatnya
kemampuan
berbahasa Inggris; dan
5. Secara psikologis, akses terhadap internet juga menumbuhkan rasa percaya
diri karena memungkinkan kita untuk tidak lagi terasing dari informasi sampai
yang paling mutakhir.

PUSTAKA ACUAN
Adiwikarta, S. (1988). Sosiologi Pendidikan : Isyu dan Hipotesis tentang Hubungan Pendidikan dengan Masyarakat. Jakarta : P2LPTK-Ditjen Dikti Depdikbud.
Clark, L.H. (1965). Social Studies and Mass Media. Plainfield, N.J. : New Jersey Secondary School Teachers Association).
Clark, L.H. (1973). Teaching Social Studies in Schools : A Handbook. New York : MacMillan Publishing Co., Inc.
Cobine, G.R. (1997). Studying with the Computer. ERIC Digest. [Online]. Tersedia : http://www.ericfacility.net/ericdigests/ed450069.html. [28 April 2003].
Dominguez and Rincon. (1992). ¡§The Influence of Television¡¨. Dalam Buckingham, et.al. (Eds.). New Direction of Media Education. London : British Film Institute.
Gordin, D.L. et.al. (1995). Using the WorldWideWeb to Build Learning Communities¡¨. Northwestern University Magazine, April, 1-17.
McLuhan, M. (1964). Understanding Media : The Extensive of Man. New York : McGraw-Hill.
Nielsen Media Research. (1998). Report on Television. New York : A.C. Nielsen Company.
Prinsloo, J. and Criticos, C. (1994). Media Matters. New York : St. Martin Press.
Purbo, O.W. (2000). Perkembangan Teknologi Informasi dan Internet di Indonesia¡¨. Kompas (28 Juni 2000)
Toffler, A. (1981). The Third Wave. New York : Bantam Books.

artikel RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Posted in Uncategorized on Mei 5, 2009 by djokohadisurjono
fauzi

fauzi

dsc000051

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Mata Pelajaran :  ILMU PENGETAHUAN ALAM

Kelas/Semeser :   V (lima) / 2
Pertemuan ke   :    I (satu)
Alokasi waktu  :   2 x 40 menit
Standar Kompetensi : 7. Memahami perubahan yang terjadi di alam dan

hubungannya dengan penggunaan sumber daya alam.
Kompetensi Dasar : 7.5 Mendeskripsikan perlunya penghematan air
Indikator :
• Mengidentifikasi keberadaan air di sekiar tempat tinggal siswa
• Menjelaskan manfaat air bagi makhluk hidup
• Menjelaskan cara menghemat air

  1. Tujuan Pembelajaran :
  1. • Siswa dapat menyebutkan keberadaan air di sekitar tempat tinggalnya
  1. • Siswa dapat menjelaskan manfaat air bagi manusia
  1. • Siswa dapat menjelaskan manfaat air bagi makhluk hidup lain
  1. • Siswa dapat menjelaskan cara menghemat air

II. Materi ajar : Penghematan Air

Di sekitar kita terdapat berbagai macam air. Air diperlukan oleh berbagai makhluk

hidup untuk keperluan hidupnya. Dalam penggunaan air, khususnya untuk

keperluan manusia hendaknya menggunakan seperlunya, tidak boros, bahkan

dalam keadaan tertentu kita perlu menghemat air.

III. Metode pembelajaran : Ceramah, tanya jawab, pengamatan, diskusi

IV. Langkah-langkah Pembelajaran
A. Kegiatan Pendahuluan
1. Guru menyampaikan salam Siswa menjawab salam

  1. 2. Guru Mengecek kehadiran siswa   Siswa aktif mengikuti pengecekan kehadiran

3. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran Siswa memperhatikan

4. Guru memusatkan perhatian siswa dengan teka teki ”Siapakah Aku?”

Aku …….Bentukku berubah-ubah sesuai dengan tempatnya. Permukaanku datar.

Aku akan berpindah dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Siapakah

aku?

Siswa menjawab teka-teki ”Siapakah Aku?”

5. Guru memimpin menyanyikan lagu Tik-tik bunyi hujan
Siswa menyanyikan lagu tik-tik bunyi hujan

6. Guru menggali pengetahuan awal siswa dengan mengaitkan pelajaran

sebelumnya tentang daur air
Dari mana asal air hujan?
Siswa menjawab pertanyaan

B. Kegiatan Inti

  1. Guru Menanyakan keberadaan air di sekitar tempat tinggal siswa

Siswa mengidentifikasi keberadaan air di sekitar tempat tinggalnya,

menuliskan hasil identifikasi di papan tulis.

  1. Guru menanyakan kegunaan air bagi manusia. Meminta siswa untuk

berdiskusi dengan teman sebangku. Kita memerlukan air untuk apa saja?

Siswa berpikir berpasangan, menjawab pertanyaan secara lisan. Menuliskan

hasil diskusi ke dalam tabel.

3. Guru menanyakan kegunaan air bagi makhluk hidup. Meminta siswa untuk

berdiskusi dengan teman sebangku.
Selain manusia, adakah makhluk hidup lain yang memerlukan air?
Untuk apa?
Siswa berpikir berpasangan, menjawab pertanyaan secara lisan. Menuliskan

hasil diskusi ke dalam tabel.

4.  Guru mengelompokkan siswa. Membagi gambar tentang pemborosan air.

Meminta siswa mendiskuskan.
Ceritakan dengan kalimatmu sendiri mengenai gambar yang kamu terima! Apa

yang kamu lakukan apabila ada kejadian seperti pada gambar yang di bagikan?

Siswa berkelompok. Mendiskusikan gambar yang dibagikan. Menuliskan hasil

diskusi pada kertas yang dibagikan. Mempresentasikan hasil diskusi.

Memajangkan hasil kerja kelompok pada pohon ilmu.

5. Guru menyediakan objek untuk ditanggapi siswa (sisa minuman dari beberapa

gelas aqua)
Bagaimana pendapatmu mengenai sisa minuman yang terbuang?

Bagaimana cara mengetahui banyaknya air yang terbuang?

Siswa menanggapi objek sisa minuman secara berkelompok. Menuliskan hasil

tanggapan pada kertas yang dibagikan. Mempresentasikan hasil tanggapan.

Memajangkan hasil kerja kelompok pada pohon ilmu.

C. Kegiatan penutup

  1. Guru membimbing siswa untuk membuat kesimpulan

Air dapat kita temukan di…..
Manfaat air bagi manusia adalah …, bagi tumbuhan adalah ….., dan bagi hewan

adalah….Cara menghemat air:
1. ………………
2. …………..

2. Guru membuat kesimpulan. Menutup pembelajaran hari ini. Menginformasikan

materi pembelajaran untuk pertemuan yang akan datang. Memperhatikan

informasi guru.
Siswa memperhatikan informasi guru

V. Sumber, Alat, Bahan
1. Sumber : Panut, Dunia Sains Untuk kelas V SD, Jakara: Yudhistira, 2005.

Saran, Purwo, S., Handayani, Sains 5 untuk kelas 5 Sekolah Dasar dan Madrasah,

Klaten: Sahabat, 2004
2. Alat dan bahan : papan tulis, kertas, foto air yang terbuang, ranting pohon.

  1. Penilaian :
  2. Tes tertulis essay, jawaban singkat

1. Tuliskan 3 contoh air berdasarkan keberadaannya! (skor 3)
2. Tuliskan 4 manfaat air bagi kehidupan manusia.! (skor 4)

3. Tuliskan 2 manfaat air bagi tumbuhan! (skor 2)

4. Tuliskan 3 manfaat air bagi hewan! (skor 3)

5. Tuliskan 3 cara menghemat air (skor 3)

(skor 15)
Nilai = skor yang diperoleh X 100 Skor total

KOMPONEN PAKEM

dsc000043 KOMUNIKASI INTERAKSI MENGALAMI REFLEKSI
PENDAHULUAN Guru memajangkan alat peraga (air) Guru menanyakan apa yang diperagakan Siswa melakukan wawancara tentang air Menyebutkan manfaat air
INTI Siswa mempresentasikan manfaat air Diskusi kelompok Siswa melakukan percobaan tentang sifat air Siswa dapat menyebutkan sifat air
PENUTUP Pesan moral Pemantapan konsep Kesimpulan Tugas rumah

PENINGKATAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN KONSEP KEMERDEKAAN MENGEMUKAKAN PENDAPAT MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW KELAS VII DI SMP PENDA TAWANGMANGU TAHUN PELAJARAN 2008/2009

Posted in Uncategorized on Mei 4, 2009 by djokohadisurjono

img0000292djokohadisurjono.wordpress.com

PENINGKATAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN KONSEP KEMERDEKAAN MENGEMUKAKAN PENDAPAT MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW KELAS VII DI SMP PENDA TAWANGMANGU TAHUN PELAJARAN 2008/2009

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah
Banyak faktor yang menyebabkan hasil belajar PKn siswa rendah yaitu faktor internal dan eksternal dari siswa. Faktor internal antara lain: motivasi belajar, intelegensi, kebiasan dan rasa percaya diri. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang terdapat di luar siswa, seperti; guru sebagai Pembina kegiatan belajar, startegi pembelajaran, sarana dan prasarana, kurikulum dan lingkungan. Kecenderungan proses pembelajaran di Indonesia adalah kegiatan belajar masih berpusat pada guru, yaitu guru lebih banyak bercerita atau berceramah. Sehingga siswa tidak banyak aktif terlibat dalam proses pembelajaran, guru tidak / jarang menggunakan media pembelajaran, sehingga proses pembelajaran menjadi kering dan kurang bermakna. Oleh karena itu paradigma lama dimana orientasi belajar lebih berpusat pada guru harus mulai ditinggalkan dan diganti dengan orientasi belajar lebih berpusat pada siswa atau pembelajaran aktif.
Dari masalah-masalah yang dikemukakan diatas, perlu dicari strategi baru dalam pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif. Pembelajaran yang mengutamakan penguasaan kompetensi harus berpusat pada siswa (Focus on Learners), memberikan pembelajaran dan pengalaman belajar yang relevan dan kontekstual dalam kehidupan nyata (provide relevant and contextualized subject matter) dan mengembangkan mental yang kaya dan kuat pada siswa. Dalam bidang pendidikan pemerintah Indonesia selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan dengan berbagai cara seperti mengganti kurikulum, meningkatkan kualitas guru melalui penataran-penataran atau melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi, memberi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan sebagainya.
UU no. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, pasal 3 menyatakan bahwa; “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. (Sinar Grafika,2003:4)
Jika seorang guru atau pendidik tidak berhasil mengembangkan potensi peserta didik maka negara itu tidak akan maju, sebaliknya jika guru atau pendidik berhasil mengembangkan potensi peserta didik, maka terciptalah manusia yang cerdas, terampil, dan berkualitas. Depdiknas (2005 : 33) yang menyatakan bahwa, “Pendidikan Kewarganegaraan adalah mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan diri yang beragam dari segi agama, sosio-kultural, bahasa, usia, suku bangsa untuk menjadi warga negara yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang dilandasi oleh Pancasila dan UUD 1945”. Menurut Wina Sanjaya (2006 : 19), Untuk mencapai tujuan ini peranan guru sangat menentukan yaitu: “Sebagai sumber belajar, fasilitator, pengelola, demonstrator, pembimbing, dan evaluator”. Sebagai motivator guru harus mampu membangkitkan motivasi siswa agar aktivitas siswa dalam proses pembelajaran berhasil dengan baik.
Disinilah guru dituntut untuk merancang kegiatan pembelajaran yang mampu mengembangkan kompetensi, baik dalam ranah kognitif, ranah afektif maupun psikomotorik siswa. Strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa dan peciptaan suasana yang menyenangkan sangat diperlukan untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran PKn. Dalam upaya membangkitkan serta meningkatkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran adalah dengan mengganti cara / model pembelajaran yang selama ini tidak diminati lagi oleh siswa, seperti pembelajaran yang dilakukan dengan ceramah dan tanya-jawab, model pembelajaran ini membuat siswa jenuh dan tidak kreatif.
Suasana belajar mengajar yang diharapkan adalah menjadikan siswa sebagai subjek yang berupaya menggali sendiri, memecahkan sendiri masalah-masalah dari suatu konsep yang dipelajari, sedangkan guru lebih banyak bertindak sebagai motivator dan fasilitator. Situasi belajar yang diharapkan di sini adalah siswa yang lebih banyak berperan (kreatif).
Pada SMP PENDA Tawangmangu sejak peneliti mengajar tahun 1992, dalam pembelajaran PKn, peneliti sering menggunakan model pembelajaran ceramah. Model pembelajaran ini tidak dapat membangkitkan aktivitas siswa dalam belajar. Hal ini tampak dari perilaku siswa yang cenderung hanya mendengar dan mencatat pelajaran yang diberikan guru. Siswa tidak mau bertanya apalagi mengemukakan pendapat tentang materi yang diberikan. siswa cenderug tidak begitu tertarik dengan pelajaran PKn karena selama ini pelajaran PKn dianggap sebagai pelajaran yang hanya mementingkan hafalan semata, kurang menekankan aspek penalaran sehingga menyebabkan rendahnya minat belajar PKn siswa di sekolah.
Mengamati kondisi ini, peneliti pernah mencoba model pembelajaran lain yaitu model pembelajaran diskusi. Siswa dibagi atas beberapa kelompok yang beranggotakan 3-5 orang (melihat kondisi siswa di kelas). Dari diskusi yang telah dilaksanakan, ternyata siswa masih kurang mampu dalam mengemukakan pendapat, sebab kemampuan dasar siswa rendah. Dalam kegiatan kelompok, hanya satu atau dua orang saja yang aktif, sedangkan yang lainnya membicarakan hal lain yang tidak berhubungan dengan tugas kelompok. Dalam melaksanakan diskusi kelompok, peneliti juga melihat di antara anggota kelompok ada yang suka mengganggu teman, ngobrol sendidri, karena mereka beranggapan bahwa dalam belajar kelompok (diskusi) tidak perlu semuanya bekerja. Karena tidak semua anggota kelompok yang aktif, maka tanggung jawab dalam kelompok menjadi kurang, bahkan dalam kegiatan kelompok (diskusi), peneliti juga menemukan ada di antara anggota kelompok yang egois sehingga tidak mau menerima pendapat teman.
Kenyataan yang peneliti temui pada sikap siswa di dalam proses pembelajaran tersebut di atas, peneliti berpendapat bahwa aktivitas siswa di SMP PENDA Tawangmangu dalam pembelajaran PKn sangat kurang. Dalam hal ini peneliti berani mengungkapkan karena memang aktivitas siswa SMP PENDA Tawangmangu masih jauh dari pengertian aktivitas yang diungkapkan dari para ahli, seperti Paul D. Dierich dalam Oemar Hamalik (2001: 173), yang mengemukakan bahwa jenis aktivitas dalam kegiatan lisan atau oral adalah mengemukakan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi saran, mengemukakan pendapat, wawancara, diskusi dan interupsi.
Berdasarkan pengamatan atau observasi pendahuluan yang peneliti lakukan, ditemukan bahwa siswa SMP PENDA Tawangmangu dalam melaksanakan diskusi kelas jarang sekali mengemukakan pendapat, mengajukan pertanyaan, apalagi mengajukan saran. Karena aktivitas siswa yang rendah itu, maka hasil belajar yang diperoleh juga menjadi rendah. Hal ini dapat kita lihat dari nilai rata-rata hasil ujian semester 1 kelas VII tahun pelajaran 2008/2009, seperti yang dapat kita lihat pada tabel berikut:
Tabel: 1.1
Daftar Rata-rata Nilai PKn Ujian Semester 1 Siswa Kelas VII SMP PENDA Tawangmangu Tahun Pelajaran 2008/2009

no Kelas Rata-rata nilai PKn semester I
1 VII A 70
2 VII B 69
3 VII C 66
4 VII D 68

Sumber: Data Sekunder Nilai PKn SMP PENDA Tawangmangu Tahun Pelajaran 2008/2009.
Rendahnya hasil belajar siswa disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain rendahnya perhatian siswa dalam mengikuti pelajaran PKn. Guru sering memberikan pelajaran dalam bentuk ceramah dan tanya-jawab, sehingga siswa tidak terangsang untuk mengembangkan kemampuan berfikir kreatif.
Dari pengalaman yang peneliti hadapi di dalam proses pembelajaran PKn yang tidak aktif maka peneliti berusaha mencarikan model pembelajaran lain, sehingga pembelajaran lebih bermakna dan lebih berkualitas. Model pembelajaran yang akan peneliti coba untuk melakukannya adalah model pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw.
Peneliti tertarik mengambil model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, karena peneliti melihat dalam model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw semua anggota kelompok diberi tugas dan tanggungjawab, baik individu maupun kelompok. Jadi, keunggulan pada pembelajaran kooperatif Jigsaw dibanding dengan diskusi yaitu seluruh anggota dalam kelompok harus bekerja sesuai dengan tugas yang diberikan, sebab tugas itu ada yang merupakan tanggung jawab individu dan ada pula tanggung jawab kelompok.
Oleh sebab itu, dalam penelitian ini peneliti mengambil sebuah judul yaitu:
” PENINGKATAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN KONSEP KEMERDEKAAN MENGEMUKAKAN PENDAPAT MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW KELAS VII DI SMP PENDA TAWANGMANGU ”
Dengan menerapkan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw di SMP PENDA Tawangmangu, diharapkan aktivitas pembelajaran siswa menjadi lebih meningkat .

B. IDENTIFIKASI MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut:
1. Siswa kurang memperhatikan dalam pembelajaran.
2. Siswa kurang berani dalam mengemukakan pendapat.
3. Adanya siswa beranggapan bahwa dalam belajar kelompok tidak perlu semua bekerja.
4. Adanya siswa yang suka membicarakan hal lain, yang tidak berhubungan dengan tugas kelompok.
5. Tanggung jawab siswa terhadap tugas masih rendah.
6. Adanya anggota kelompok yang tidak mau menerima pendapat teman.

C.PEMBATASAN MASALAH
Sesuai dengan kemampuan waktu dan tenaga yang peneliti miliki, maka peneliti memberi batasan masalah:
1.Siswa kurang berani dalam mengemukakan pendapat.
2.Tanggung jawab siswa terhadap tugas masih rendah.
3.Motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran kurang.

D. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan batasan masalah yang telah ditetapkan dalam pembelajaran PKn dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1. Apakah dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw mampu meningkatkan pembelajaran PKn?
2. Bagaimana aktivitas belajar siswa dalam pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw?
3. Sejauh mana pengaruh motivasi terhadap siswa dalam mengikuti pelajaran?
E. PEMECAHAN MASALAH
PKn sebagai salah satu bidang studi yang memiliki tujuan “How to Develop Better Civics Behaviours” membekali siswa untuk mengembangkan penalarannya disamping aspek nilai dan moral, banyak memuat materi sosial. PKn merupakan salah satu dari lima tradisi pendidikan IPS yakni citizenship transmission, saat ini sudah berkembang menjadi tiga aspek PKn (Citizenship Education), yakni aspek akademis, aspek kurikuler dan aspek sosial budaya.Secara akademis PKn dapat didefinisikan sebagai suatu bidang kajian yang memusatkan telaahannya pada seluruh dimensi psikologi dan sosial budaya kewarganegaraan individu dengan menggunakan ilmu politik dan pendidikan sebagai landasan kajiannya .
Implementasiya sangat dibutuhkan guru yang profesional, guru yang profesional dituntut menguasai sejumlah kemampuan dan keterampilan, antara lain :
1. Kemampuan menguasai bahan ajar
2. Kemampuan dalam mengelola kelas
3. Kemampuan dalam menggunakan metode, media dan sumber belajar
4. Kemampuan untuk melakukan penilaian baik proses maupun hasil
Selanjutnya UNESCO dalam Soedijarto (2004 : 10-18) mencanangkan empat pilar belajar dalam pembelajaran (termasuk model Problem Based Learning) :
1. Learning to Know ( penguasaan ways of knowing or mode of inquire)
2. Learning to do ( controlling, monitoring, maintening, designing, organizing)
3. Learning to live together
4. Learning to be
Berdasarkan uraian analisis permasalahan diatas, model pembelajaran kooperatif jigsaw apabila diterapkan di kelas akan dapat memecahkan masalah peningkatan pembelajaran kemerdekaan mengemukakan pendapat dalam mata pelajaran PKn.

F. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah “untuk mengetahui peningkatan aktivitas belajar siswa dan motivasi belajar Pendidikan Kewarganegaraan melalui model pembelajaran kooperatif Jigsaw”.

G. MANFAAT PENELITIAN
Berdasarkan tujuan penelitian yang telah diuraikan di atas, maka peneliti mengharapkan penilitian ini bermanfaat sebagai berikut:
1. Bagi Siswa
a. Memberikan suasana pembelajaran yang menggairahkan
b. Menghilangkan anggapan bahwa belajar kelompok itu cukup dikerjakan
oleh satu atau dua orang saja
c. Memupuk pribadi siswa aktif dan kreatif
d. Memupuk tanggung jawab individu maupun kelompok
e. Siswa semakin termotivasi untuk meningkatkan pemahaman mata pelajaran PKn
2. Bagi Guru
a. Dapat terjadi inovasi dalam proses pembelajaran karena guru akan mengubah
paradigma strategi pembelajaran.
b. Mengembangkan kemampuan guru dalam proses belajar mengajar
c. Melatih guru agar lebih jeli dalam memperhatikan kesulitan belajar siswa
3. Bagi Sekolah
Melahirkan siswa-siswa yang aktif dan kreatif dalam menghadapi
permasalahan di lingkungannya.

BAB II
KAJIAN KEPUSTAKAAN
A. Hakekat Pendidikan Kewarganegaraan
Pendidikan Kewarganegaraan merupakan salah satu mata pelajaran yang dapat membentuk diri yang beragam dari segi agama, sosio-kultural, bahasa, usia, untuk menjadi warga negara yang cerdas, terampil dan berkarakter yang dilandasi oleh UUD 1945. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Depdiknas (2005: 34) bahwa:
Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang secara umum bertujuan untuk mengembangkan potensi individu warga negara Indonesia, sehingga memiliki wawasan, sikap, dan keterampilan kewarganegaraan yang memadai dan memungkinkan untuk berpartisipasi secara cerdas dan bertanggung jawab dalam berbagai kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Berdasarkan pendapat di atas jelas bagi kita bahwa PKn bertujuan mengembangkan potensi individu warga negara, dengan demikian maka seorang guru PKn haruslah menjadi guru yang berkualitas dan profesional, sebab jika guru tidak berkualitas tentu tujuan PKn itu sendiri tidak tercapai.
Secara garis besar mata pelajaran Kewarganegaraan memiliki 3 dimensi yaitu:
1. Dimensi Pengetahuan Kewarganegaraan(Civics Knowledge) yang mencakup
bidang politik, hukum dan moral.
2. Dimensi Keterampilan Kewarganegaraan (Civics Skills) meliputi keterampilan
partisipasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
3. Dimensi Nilai-nilai Kewarganegaraan (Civics Values) mencakup antara lain
Percaya diri, penguasaan atas nilai religius, norma dan moral luhur.
(Depdiknas 2003 : 4)
Berdasarkan uraian di atas peneliti berpendapat bahwa dalam mata pelajaran Kewarganegaraan seorang siswa bukan saja menerima pelajaran berupa pengetahuan, tetapi pada diri siswa juga harus berkembang sikap, keterampilan dan nilai-nilai. Sesuai dengan Depdiknas (2005 : 33) yang menyatakan bahwa tujuan PKn untuk setiap jenjang pendidikan yaitu mengembangkan kecerdasan warga negara yang diwujudkan melalui pemahaman, keterampilan sosial dan intelektual, serta berprestasi dalam memecahkan masalah di lingkungannya.
Untuk mencapai tujuan Pendidikan Kewarganegaraan tersebut, maka guru berupaya melalui kualitas pembelajaran yang dikelolanya, upaya ini bisa dicapai jika siswa mau belajar. Dalam belajar inilah guru berusaha mengarahkan dan membentuk sikap serta perilaku siswa sebagai mana yang dikehendaki dalam pembelajaran PKn.
B. Aktivitas Belajar Siswa dalam Pembelajaran PKn
- Aktivitas Belajar
Sebelum peneliti meninjau lebih jauh tentang aktivitas belajar, terlebih dahulu dijelaskan tentang Aktivitas dan Belajar. Menurut Anton M. Mulyono (2001 : 26), Aktivitas artinya “kegiatan / keaktifan”. Jadi segala sesuatu yang dilakukan atau kegiatan-kegiatan yang terjadi baik fisik maupun non-fisik, merupakan suatu aktifitas. Sedangkan Belajar menurut Oemar Hamalik (2001: 28), adalah “Suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan”. Aspek tingkah laku tersebut adalah: pengetahuan, pengertian, kebiasaan, keterampilan, apresiasi, emosional, hubungan sosial, jasmani, etis atau budi pekerti dan sikap. Jika seseorang telah belajar maka akan terlihat terjadinya perubahan pada salah satu atau beberapa aspek tingkah laku tersebut.
Selanjutnya Sardiman A.M. (2003 : 22) menyatakan: “Belajar sebagai suatu proses interaksi antara diri manusia dengan lingkungannya yang mungkin berwujud pribadi, fakta, konsep ataupun teori”. Dalam proses interaksi ini terkandung dua maksud yaitu:
1. Proses Internalisasi dari sesuatu ke dalam diri yang belajar.
2. Proses ini dilakukan secara aktif dengan segenap panca indera ikut berperan.
Dari uraian tentang belajar di atas peneliti berpendapat bahwa dalam belajar terjadi dua proses yaitu :
a. perubahan tingkah laku pada diri seseorang yang sedang belajar,
b. interaksi dengan lingkungannya, baik berupa pribadi, fakta, dsb.
Jadi peneliti berkesimpulan bahwa aktivitas belajar adalah segala kegiatan yang dilakukan dalam proses interaksi (guru dan siswa) dalam rangka mencapai tujuan belajar. Aktivitas yang dimaksudkan di sini penekanannya adalah pada siswa, sebab dengan adanya aktivitas siswa dalam proses pembelajaran terciptalah situasi belajar aktif, seperti yang dikemukakan oleh Rochman Natawijaya dalam Depdiknas, 2005 : 31, belajar aktif adalah “Suatu sistem belajar mengajar yang menekankan keaktifan siswa secara fisik, mental intelektual dan emosional guna memperoleh hasil belajar yang berupa perpaduan antara aspek kognitif, afektif dan psikomotor”.
Aktivitas belajar itu banyak sekali macamnya, sehingga para ahli mengadakan klasifikasi. Paul D. Dierich, dalam Oemar Hamalik (2001:172) mengklasifikasikan aktivitas belajar atas delapan kelompok, yaitu:
- Kegiatan-kegiatan Visual.
Membaca, melihat gambar-gambar, mengamati eksperimen, demonstrasi pameran,
dan mengamati orang lain bekerja dan bermain.
- Kegiatan-kegiatan Lisan (oral)
Mengemukakan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian, mengajukan
pertanyaan, memberi saran, mengemukakan pendapat, wawancara,diskusi dan
interupsi.
- Kegiatan-kegiatan Mendengarkan
Mendengarkan penyajian bahan, mendengarkan percakapan atau diskusi kelompok,
mendengarkan radio.
- Kegiatan-kegiatan Menulis
Menulis cerita, menulis laporan, memeriksa karangan, bahan-bahan kopi, membuat
rangkuman, mengerjakan tes dan mengisi angket.
- Kegiatan-kegiatan Menggambar
Menggambar, membuat grafik, chart, diagram, peta dan pola.
- Kegiatan-kegiatan Metrik
Melakukan percobaan, memilih alat-alat, melaksanakan pameran, membuat model,
menyelenggarakan permainan, menari dan berkebun.
- Kegiatan-kegiatan Mental
Merenung, mengingat, memecahkan masalah, menganalisis faktor-faktor, melihat
hubungan-hubungan dan membuat keputusan
- Kegiatan-kegiatan Emosional
Minat, membedakan, berani, tenang dan lain-lain.
Berdasarkan pengertian aktivitas tersebut di atas, peneliti berpendapat bahwa dalam belajar sangat dituntut keaktifan siswa. Siswa yang lebih banyak melakukan kegiatan sedangkan guru lebih banyak membimbing dan mengarahkan. Tujuan pembelajaran PKn tidak mungkin tercapai tanpa adanya aktifitas siswa apalagi dalam pembelajaran PKn antara lain tujuannya adalah untuk menjadikan manusia kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Dalam rangka membentuk manusia yang kreatif dan bertanggung jawab ini peneliti berusaha melatih dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif Jigsaw, sebab dalam model pembelajaran ini siswa dituntut untuk aktif dan bertanggung jawab baik secara individu maupun kelompok.
Hal lain yang juga sangat penting pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa adalah motivasi. Menurut Oemar Hamalik (2001: 158), “Motivasi adalah perubahan energi pada diri seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan”. Motivasi dapat dibagi menjadi dua jenis:
1. Motivasi Intrinsik, adalah motivasi yang tercakup di dalam situasi belajar dan menemui kebutuhan dan tujuan-tujuan murid. Motivasi ini disebut motivasi murni karena timbul dari diri siswa sendiri, misalnya keinginan untuk mendapat keterampilan tertentu, memperoleh informasi, mengembangkan sikap untuk berhasil, dll.
2. Motivasi Ekstrinsik, adalah motivasi yang disebabkan oleh faktor-faktor dari luar situasi belajar, misalnya ijazah, tingkatan hadiah, medali, dll. Motivasi ini tetap diperlukan di sekolah, sebab pengajaran di sekolah tidak semuanya menarik minat siswa. Oleh sebab itu motivasi perlu dibangkitkan oleh guru, sehingga siswa mau dan ingin belajar.
Dari uraian di atas peneliti berpendapat bahwa dengan adanya motivasi siswa dalam belajar, maka aktivitas siswa dalam proses pembelajaran juga akan meningkat.
- Aktivitas Siswa yang Diamati
Dalam penelitian ini peneliti akan mengamati aktivitas siswa sebagaiberikut:
a. Mengajukan pertanyaan
b. Menjawab pertanyaan siswa maupun guru
c. Memberi saran
d. Mengemukakan pendapat
e. Menyelesaikan tugas kelompok
f. Mempresentasikan hasil kerja kelompok

C. Pembelajaran Kooperatif
1. Pengertian Pembelajaran Kooperatif (Kooperatif Learning)
Keberhasilan dari pembelajaran sangat ditentukan oleh pemilihan metode belajar yang ditentukan oleh guru. Sebab dengan penyajian pembelajaran secara menarik akan dapat membangkitkan motivasi belajar siswa, sebaliknya jika pembelajaran itu disajikan dengan cara yang kurang menarik, membuat motivasi siswa rendah. Untuk menciptakan pembelajaran yang menarik, upaya yang harus dilakukan guru adalah memilih model pembelajaran yang tepat sesuai dengan materi pembelajaran. Dengan model pembelajaran yang tepat diharapkan akan meningkatkan aktivitas siswa dalam belajar sehingga hasil belajar pun dapat ditingkatkan.
Salah satu model pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas siswa adalah pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang dilakukan pada kelompok kecil, siswa belajar dan bekerja sama untuk sampai pada pengalaman belajar yang optimal baik pengalaman individu maupun pengalaman kelompok. Esensi pembelajaran kooperatif itu adalah tanggung jawab individu sekaligus tanggung jawab kelompok, sehingga dalam diri siswa terdapat sikap ketergantungan positif yang menjadikan kerja kelompok optimal. Pada pembelajaran kooperatif terdapat saling ketergantungan positif antar anggota kelompok. Siswa saling bekerja sama untuk mendapatkan hasil belajar yang lebih baik. Keberhasilan kelompok dalam mencapai tujuan tergantung pada kerja sama yang kompak dan serasi dalam kelompok itu.
Dengan memperhatikan pengertian dari pembelajaran kooperatif di atas, peneliti berpendapat bahwa model pembelajaran ini sangat baik untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa, sebab semua siswa dituntut untuk bekerja dan bertanggung jawab sehingga di dalam kerja kelompok tidak ada anggota kelompok yang asal namanya saja tercantum sebagai anggota kelompok, tetapi semua harus aktif.
2. Hakekat Pembelajaran Koopertif ( Cooperative Learning ).
Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sengaja mengembangkan interaksi yang saling asuh antar siswa untuk memahami materi pelajaran PKn, Unsur-unsur pembelajaran kooperatif paling sedikit ada empat macam yakni: Saling ketergantungan positif, artinya dalam pembelajaran kooperatif, guru menciptakan suasana yang mendorong agar siswa merasa saling membutuhkan antar sesama. Dengan saling membutuhkan antar sesama, maka mereka merasa saling ketergantungan satu sama lain; Interaksi tatap muka, artinya menuntut para siswa dalam kelompok dapat saling bertatap muka sehingga mereka dapat melakukan dialog, tidak hanya dengan guru, tetapi juga dengan sesama siswa. Dengan interaksi tatap muka, memungkinkan para siswa dapat saling menjadi sumber belajar, sehingga sumber belajar menjadi variasi.
Dengan interaksi ini diharapkan akan memudahkan dan membantu siswa dalam mempelajari suatu materi. Akuntabilitas individual, artinya meskipun pembelajaran kooperatif menampilkan wujudnya dalam belajar kelompok, tetapi penilaian dalam rangka mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap suatu materi pelajaran dilakukan secara individual.
Hasil penilaian secara individual tersebut selanjutnya disampaikan oleh guru kepada kelompok agar semua anggota kelompok mengetahui siapa anggota kelompok yang memerlukan bantuan dan siapa anggota kelompok yang dapat memberikan bantuan keterampilan menjalin hubungan antar pribadi, artinya, melalui pembelajaran kooperatif akan menumbuhkan keterampilan menjalin hubungan antar pribadi. Hal ini dikarenakan dalam pembelajaran kooperatif menekankan aspek-aspek: tenggang rasa, sikap sopan terhadap teman, mengkritik ide dan bukan mengkritik orangnya, berani mempertahankan pikiran logis, tidak mendominasi orang lain, mandiri, dan berbagai sifat positif lainnya.

3. Unsur-unsur Pembelajaran Kooperatif
Sebagaimana yang telah diuraikan di atas bahwa pembelajaran Kooperatif adalah pembelajaran yang dilakukan dalam kelompok kecil, di mana Muslim Ibrahim (2006 : 6, dalam Depdiknas 2005 : 45) menguraikan unsur-unsur pembelajaran Kooperatif sebagai berikut:
a. Siswa dalam kelompoknya harus beranggapan bahwa mereka “sehidup sepenanggungan bersama”.
b. Siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam kelompoknya seperti milik mereka sendiri.
c. Siswa harus melihat bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama.
d. Siswa harus membagi tugas dan tanggung jawab yang sama di antara anggota kelompoknya.
e. Siswa akan dikena evaluasi atau hadiah/penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua kelompok.
f. Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.
g. Siswa akan diminta mempertanggung jawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
Dengan memperhatikan unsur-unsur pembelajaran kooperatif tersebut, peneliti berpendapat bahwa dalam pembelajaran kooperatif setiap siswa yang tergabung dalam kelompok harus betul-betul dapat menjalin kekompakan. Selain itu, tanggung jawab bukan saja terdapat dalam kelompok, tetapi juga dituntut tanggung jawab individu.
4. Ciri-ciri Pembelajaran Kooperatif:
Sebagai seorang guru dalam memberikan pelajaran kepada siswa tentu ia akan memilih manakah model pembelajaran yang tepat diberikan untuk materi pelajaran tertentu. Apabila seorang guru ingin menggunakan pembelajaran kooperatif, maka haruslah terlebih dahulu mengerti tentang pembelajaran kooperatif tersebut. Dalam hal ini Muslim Ibrahim (dalam Depdiknas, 2005 : 46) mengemukakan ciri-ciri pembelajaran kooperatif sebagai berikut:
a. Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi
belajarnya.
b. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan
rendah.
c. Bila mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin
yang berbeda.
d. Penghargaan lebih berorientasi pada individu.
Dengan memperhatikan ciri-ciri tersebut, seorang guru hendaklah dapat membentuk kelompok sesuai dengan ketentuan, sehingga setiap kelompok dapat bekerja dengan optimal.
5. Tipe-tipe Pembelajaran Kooperatif:
Pada pembelajaran kooperatif dikenal ada 4 tipe, yaitu:
1) tipe STAD,
2) tipe Jigsaw,
3) Investigasi Kelompok dan
4) tipe Struktural. Tentang hal itu dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Tipe STAD
Pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Team Achievement Division) adalah pembelajaran kooperatif di mana siswa belajar dengan menggunakan kelompok kecil yang anggotanya heterogen dan menggunakan lembar kegiatan atau perangkat pembelajaran untuk menuntaskan materi pembelajaran, kemudian saling membantu satu sama lain untuk memahami bahan pembelajaran melalui tutorial, kuis satu sama lain dan atau melakukan diskusi.
2. Tipe Jigsaw
Tipe Jigsaw adalah salah satu model pembelajaran kooperatif di mana
pembelajaran melalui penggunaan kelompok kecil siswa yang bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran dan mendapatkan pengalaman belajar yang maksimal, baik pengalaman individu maupun pengalaman kelompok. Pada pembelajaran tipe Jigsaw ini setiap siswa menjadi anggota dari 2 kelompok, yaitu anggota kelompok asal dan anggota kelompok ahli. Anggota kelompok asal terdiri dari 3-5 siswa yang setiap anggotanya diberi nomor kepala 1-5. Nomor kepala yang sama pada kelompokasal berkumpul pada suatu kelompok yan disebut kelompok ahli.
3. Investigasi Kelompok
Investigasi kelompok merupakan pembelajaran kooperatif yang paling komplek dan paling sulit untuk diterapkan, di mana siswa terlibat dalam perencanaan pemilihan topik yang dipelajari dan melakukan penyelidikan yang mendalam atas topik yang dipilihnya, selanjutnya menyiapkan dan mempresentasikan laporannya kepada seluruh kelas.
4. Tipe Struktural
Ada 2 macam pembelajaran koooperatif tipe struktural ini yang terkenal, yaitu:
1. Think-pair-share,yaitu pembelajaran kooperatif dengan menggunakan tahap-
tahap pembelajaran sebagai berikut:
-. Tahap Pertama: Thinking (berfikir), dengan mengajukan pertanyaan,kemudian
siswa diminta untuk memikirkan jawaban secara mandiri beberapa saat.
- Tahap Kedua: Siswa diminta secara berpasangan untuk mendiskusikan apa yang
dipikirkannya pada tahap pertama.
- Tahap Ketiga: Meminta kepada pasangan untuk berbagi kepada seluruh kelas
secara bergiliran.
2. Numbered head together yaitu pembelajaran kooperatif dengan langka-langkah
sebagai berikut:
- Langkah 1: siswa dibagi per kelompok dengan anggota 3-5 orang, dan setiap
anggota diberi nomor 1-5.
- Langkah 2: guru mengajukan pertanyaan.
- Langkah 3: berfikir bersama menyatukan pendapat.
- Langkah 4: nomor tertentu disuruh menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas.
Dari keempat tipe pembelajaran kooperatif di atas, peneliti lebih tertarik melakukan penelitian dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, di mana pada pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw setiap siswa berkewajiban mempelajari materi yang ditugaskan kepada mereka secara bersama pada kelompok ahli, kemudian setiap siswa harus menyampaikan materi yang sudah dipelajarinya dalam kelompok asal, sehingga siswa memperoleh pengalaman langsung. Tingkat aktivitas pada kooperatif Jigsaw lebih tinggi karena semua siswa berpartisipasi dan punya tanggung jawab baik individu maupun kelompok.
Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw
Dalam pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw terdapat 3 karakteristik yaitu:
a. kelompok kecil, b. belajar bersama, dan c. pengalaman belajar. Esensi kooperatif learning adalah tanggung jawab individu sekaligus tanggung jawab kelompok, sehingga dalam diri siswa terbentuk sikap ketergantungan positif yang menjadikan kerja kelompok optimal. Keadaan ini mendukung siswa dalam kelompoknya belajar bekerja sama dan tanggung jawab dengan sungguh-sungguh sampai suksesnya tugas-tugas dalam kelompok.
Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Johnson (1991 : 27) yang menyatakan bahwa “Pembelajaran Kooperatif Jigsaw ialah kegiatan belajar secara kelompok kecil, siswa belajar dan bekerja sama sampai kepada pengalaman belajar yang maksimal, baik pengalaman individu maupun pengalaman kelompok”.
Persiapan dalam pembelajaran kooperatif Jigsaw
1. Pembentukan Kelompok Belajar
yaitu kelompok asal dan kelompok ahli, yang dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Kelompok kooperatif awal (kelompok asal). Siswa dibagi atas beberapa kelompok yang terdiri dari 3-5 anggota. Setiap anggota diberi nomor kepala, kelompok harus heterogen terutama di kemampuan akademik.
b. Kelompok Ahli
Kelompok ahli anggotanya adalah nomor kepala yang sama pada kelompok asal,
2 . Langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw
Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw ini berbeda dengan kelompok kooperatif lainnya, karena setiap siswa bekerja sama pada dua kelompok secara bergantian, dengan langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut:
a. Siswa dibagi dalam kelompok kecil yang disebut kelompok asal, beranggotakan 3-5 orang. Setiap siswa diberi nomor kepala misalnya A,B,C,D,E
b. Membagi wacana / tugas sesuai dengan materi yang diajarkan. Masing-masing siswa dalam kelompok asal mendapat wacana / tugas yang berbeda, nomor kepala yang sama mendapat tugas yang sama pada masing-masing kelompok
c. Kumpulkan masing-masing siswa yang memiliki wacana / tugas yang sama dalam satu kelompok sehingga jumlah kelompok ahli sama dengan jumlah wacana atau tugas yang telah dipersiapkan oleh guru.
d. Dalam kelompok ahli ini tugaskan agar siswa belajar bersama untuk menjadi ahli sesuai dengan wacana / tugas yang menjadi tanggung jawabnya.
e. Tugaskan bagi semua anggota kelompok ahli untuk memahami dan dapat
menyampaikan informasi tentang hasil dari wacana / tugas yang telah dipahami kepada kelompok kooperatif (kelompok asal). Poin c, d, dan e dilakukan dalam waktu 30 menit.
f. Apabila tugas telah selesai dikerjakan dalam kelompok ahli masing-masing siswa kembali ke kelompok kooperatif asal.
g. Beri kesempatan secara bergiliran masing-masing siswa untuk menyampaikan hasil dari tugas di kelompok ahli. Poin f dan g dilakukan dalam waktu 20 menit.
h. Bila kelompok sudah menyelesaikan tugasnya secara keseluruhan, masing-masing kelompok menyampaikan hasilnya dan guru memberikan klarifilkasi. (10 menit).

E. Kerangka Konseptual
Dalam pembelajaran kooperatif Jigsaw kegiatan dilakukan dalam tiga tahapan yaitu : tahap I (kooperatif asal), tahap II (kelompok ahli), tahap III (kelompok gabungan). Untuk meningkatkan aktivitas siswa perlu ada motivasi, baik motivasi intrinsik maupun motivasi ekstrinsik. Dalam halini peneliti hanya meneliti sampai aktivitas siswa, tidak meneliti sampai hasil belajar siswa.

F. Hipotesis Tindakan
Dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dalam pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SMP PENDA Tawangmangu aktivitas siswa dapat meningkat.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Sesuai dengan masalah yang diteliti, maka jenis penelitian yang dilakukan oleh peneliti berupa Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yaitu suatu kegiatan penelitian yang dilakukan di kelas dalam arti luas. Suharsimi Harikunto (2006 : 2 ) memandang Penelitian Tindakan Kelas sebagai bentuk penelitian yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa, sehingga penelitian harus menyangkut upaya guru dalam bentuk proses pembelajaran.
PTK, selain bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar, juga untuk meningkatkan kinerja guru dan dosen dalam proses pembelajaran. Dengan kata lain, PTK bukan hanya bertujuan untuk mengungkapkan penyebab dari berbagai permasalahan yang dihadapi, tetapi yang lebih penting adalah memberikan pemecahan berupa tindakan untuk mengatasi masalah.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa PTK adalah suatu penelitian yang dilakukan untuk mengatasi masalah-masalah yang ada dalam proses pembelajaran dan upaya meningkatkan proses serta hasil belajar

B. Tempat/Waktu dan Subjek Penelitian
1. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMP PENDA Tawangmangu jln Desa Nglebak Kabupaten Karanganyar. Penelitian ini dilakukan pada bulan MARET – JUNI 2009 (semester II tahun pelajaran 2008/2009) dengan standar kompetensi 4.Menampilkan perilaku kemerdekaan mengemukakan pendapat, sedangkan Kompetensi Dasar (KD):
4.1. Menjelaskan hakekat kemerdekaan mengemukakan pendapat.
4.2. Menguraikan pentingnya kemerdekaan mengemukakan pendapat secara
bebas dan bertanggung jawab.
2. Subjek Penelitian
Subjek penelitian adalah siswa kelas VII.C yang berjumlah 31 orang, terdiri dari 16 Orang laki-laki dan 15 orang perempuan. kelas VII.C dipilih sebagai subjek penelitian karena kondisi siswa pada kelas tersebut bermasalah sesuai dengan identifikasi masalah yang dipaparkan.

C. Prosedur Penelitian
Menurut prosedur Penelitian Tindakan Kelas, maka penelitian ini dilaksanakan dalam bentuk siklus yang terdiri dari empat tahap yaitu: perencanaan (planning),tindakan (action), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting). Kurt Lewin dalam Depdikbud (1999 : 21).
1. Rencana Tindakan
a. Menetapkan jumlah siklus yaitu dua siklus, tiap siklus dilaksanakan dua kali
pertemuan tatap muka.
Menetapkan kelas yang dijadikan objek penelitian, yaitu kelas VII-C SMP
PENDA Tawangmangu.
c. Menetapkan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang akan dilakukan
penelitian.
d. Menyusun perangkat pembelajaran, meliputi:
- Rencana Pembelajaran
- Lembaran Kerja Siswa
- Merancang alat pengumpul data
e. Menetapkan observer

2. Pelaksanaan Tindakan
Siklus 1
a. Kegiatan Pendahuluan
1). Menyampaikan pelaksanaan penelitian tindakan kelas
2). Sebagai apersepsi, siswa diingatkan kembali tentang kompetensi dasar
berkaitan dengan materi yang dipelajari
3). Memberikan motivasi agar siswa tertarik untuk mengikuti pelajaran
4). Menyebutkan dan menuliskan judul pembelajaran
5). Menyebutkan dan menuliskan kompetensi dasar yang ingin dicapai
b. Kegiatan Inti
1). Tahap Kooperatif
- Siswa dibagi dalam enam kelompok kecil yang anggotanya lima orang
dan diberi nomor kepala A,B,C,D.E
- Kepada setiap kelompok dibagikan tugas yang tidak sama,masing-
masing nomor kepala mendapat tugas yang berbeda.
- Tugas disajikan dalam bentuk Lembaran Kegiatan Siswa (LKS) yang
dipersiapkan oleh peneliti.
2). Tahap Ahli
- Siswa yang menerima wacana yang sama (yang berasal dari masing-
Masing kelompok kooperatif), membahas wacana/tugas dengan
diskusi/bekerja sama dan mempersiapkan diri untuk menyampaikan
hasil
diskusinya kepada masing- masing anggota kelompok kooperatif asal.
- Setiap anggota kembali ke kelompok kooperatif masing-masing, telah menjadi
ahli dan mengajarkan/ menginformasikan hasil diskusi kelompok ahli secara
bergiliran
- Setiap kelompok menyusun laporan secara tertulis
- Mempresentasikan hasil diskusi kelompok dengan menunjuk salah satu
kelompok
c. Kegiatan Penutup
1). Memberi penekanan tentang konsep penting yang harus dikuasai siswa
2). Membantu siswa menarik kesimpulan
3). Memberikan tugas rumah berdasarkan topik pada rencana pembelajaran

D. Instrumen Penelitian
Alat yang digunakan untuk pengumpulan data adalah berupa instrumen untuk mencatat semua aktivitas siswa selama tindakan berlangsung. Ada tiga macam alat pengumpul data yang digunakan, yaitu:
a. Lembaran Observasi
Aspek-aspek yang diamati adalah:
- Mengajukan pertanyaan
- Menjawab pertanyaan siswa maupun guru
- Memberi saran
- Mengemukakan pendapat
- Menyelesaikan tugas kelompok
- Mempresentasikan hasil kerja kelompok
b. Catatan Lapangan
Catatan lapangan merupakan buku jurnal harian yang ditulis peneliti secara bebas,
buku ini mencatat seluruh kegiatan pembelajaran serta sikap siswa dari awal
sampai akhir pembelajaran.
c. Kuesioner Siswa
Kuesioner siswa merupakan dialog secara tertulis dengan siswa Digunakan untuk
mengetahui sejauh mana model pembelajaran yang dibawakan disenangi atau
tidak oleh siswa, ada sepuluh aspek yang ditanyakan. Pada kuesioner ini siswa
diharapkan dapat menjawab jujur dan objektif dengan jalan memberi ceklis “ya”
atau “tidak” pada lajur yang disediakan. Kuesioner ini diberikan kepada 31 orang
siswa setelah berakhirnya siklus kedua. Aspek yang ditanyakan pada kuesioner
tersebut terlampir.

E. Analisa Data
- Data yang diperoleh dianalisa secara kolaboratif dengan teman sejawat dan hasilnya
dijadikan sebagai bahan penyusunan rencana tindakan berikutnya.
- Analisa data dilakukan setiap selesai 1 kali pertemuan tatap muka dan setiap akhir
silkus.
- Data dianalisa secara kualitatif yaitu lembaran observasi dan catatan lapangan.
- Analisa kualitatif untuk catatan lapangan dan lembaran observasi dilakukan dengan
jalan membandingkan keaktifan siswa pada siklus satu dengan keaktifan siswa siklus
dua.
- Lembaran Observasi Proses Belajar Mengajar
- Lembaran ini dipergunakan untuk mengungkapkan aktifitas siswa dan guru selama
proses belajar berlangsung. Ada 6 aspek yang diamati pada lembaran ini, yaitu:
1. Mengajukan pertanyaan
2. Menjawab pertanyaan siswa maupun guru
3. Memberi saran
4. Mengemukakan pendapat
5. Menyelesaikan tugas kelompok
6. Mempresentasikan hasil kerja kelompok

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.